Rabu, 18 April 2012

Alam Dunia tanda Kuasa Maha Pencipta

                                                                                       
                                                                          
                                              I S L A M  dan  I L M U N Y A  


Alam Dunia wujudnya kekuasaan Maha pencipta.
Benda dan barang yang wujud ini adanya tidak ada dan memang tidak ada (gelap). Kemudian barang  itu menjadi ada dan bisa mengeluarkan sinarnya, dengan adanya  sinar yang memancar dari benda tersebut maka alam semesta ini bisa menjadi terang. Ini semua adalah adanya Kebesaran dan Kekuasaan Allah Ta’ala.
“Alkawnu  kulluhu  zhulma-htun  wa-innama  anarahu  zhuhurul-hhaqi  fiman ra-alkawna walam  yasyhad-hu  fiyhi  aw-‘indahu aw-qablahu aw-ba’dahu faqad  a’wadjahu  wadzudul-anwaari  wa-hhujibat  ‘anhu  tsumuw  syul-ma’arifi  bisuhhbil-atsaari”.
“Segala  sesuatu  yang wujud di alam ini adalah gelap (tidak bersinar) dan yang meneranginya  adalah  tampaknya  Al Haqq  { Allah }. Maka  barang siapa yang melihat akan sesuatu yang wujud ini, akan  tetapi dia tidak menyaksikan Haqnya Allah di-dalamnya, atau  disisinya, sebelum atau sesudahnya, pastilah  cahaya itu menyilaukan dan menghalangi dari padanya cahaya Ma’rifaht, disebabkan adanya kabut yang menyelimuti dari segala yang wujud ini”.
Sesungguhnya di alam semesta ini cukup menjadi bukti bahwa itu semua ada yang menjadikannya, tak lain dan tak bukan selain nyatanya Allah Ta’ala yang menciptakannya.  Dan tak mungkin {mustahil} bahwa sesuatu itu wujud tanpa ada penciptanya.  Begitut juga asalnya bumi, langit, bintang, itu semua menunjukkan tanda nyatanya Allah Yang Maha Pencipta.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala didalam Al Qur’an :
“Inna  fii khalqis-samaawaati  wal-ardhi   wa-akhtilafil-layli   wannahaari  walfulkil-latiy-  tajriy  filbahhri   bimaa  yanfa-‘unnasa  wamaa  andjalallahu  minas-samaa-i  minm-ma-in  fa-ahhyaa  bihil-ardha  ba’da  mawtihaa wabats-tsa  fiyhaa  minkulli da-abbahtin  watash-riyfir-riyaa-hhi   was-sa-hhabil  musakh-kharibiynas-samaa-i  wal ardhi  la-ayaatinl-liqawmin  ya’qiyluwna”.
“Sesungguhnya  dalam  penciptaan  langit  dan  bumi,  silih  bergantinya  malam  dan siang,  bahtera  yang  berlayar  dilaut  membawa yang berguna bagi manusia, dan apa yang  Allah  turunkan  dari  langit  berupa  air, lalu dengan air itu  Dia hidupkan bumi sesudah mati  {kering} nya  dan  Dia sebarkan  dibumi ini segala jenis hewan dan pengisaran  angin  dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh {terdapat}  tanda-tanda  {keesaan  dan kebesaran Allah}  bagi  kaum  yang  memikirkan”. {QS. Al Baqarah. 164}.
Oleh sebab itu orang yang melihat benda yang wujud ini tetapi tidak melihat akan kebesaran benda yang wujud itu, sebelum dan sesudahnya melihat kenyataan benda itu, maka teranglah bahwa  hatinya benar-benar silau.
Seharusnya bagi orang yang beriman setelah melihat wujudnya benda yang ada didunia ini, hendaklah bertambah sadar dan bertambah keyakinannya  bahwa semua itu adalah berkat Kekuasaan Allah Ta’ala.  Jangan kemudian setelah melihat benda kenyataan yang ada didunia ini lalu menjadi silau, lupa akan Kebesaran dan Kekuasaan Allah Ta’ala, yang akhirnya tidak mempunyai rasa syukur.  Sebaliknya bagi orang yang beriman dan ber ‘aqal sehat mereka sadari  bahwa adanya itu semua adalah ciptaan Allah Ta’ala.  Dan mereka bertambah syukur dalam arti menjalankan semua yang menjadi perintahnya dan menjauhi semua larangannya.
Orang yang demikian ini yaitu orang yang melihat kenyataan yang ada, tetapi hatinya tidak silau, lupa atau ada penghalang yang menghalangi penglihatan hatinya itu, benar-benar  telah dibuka hatinya oleh Allah Ta’ala, maka jadilah Ia orang  yang Ma’rifaht  kepada Allah Ta’ala.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :
“Innallaha  laayastahhyi  an-yadhriba  matsalanm-maa ba’uwdhahtan famaa fawqahaa  fa-ammal-ldziyna aamanuw  faya’lamuwna  annahul-haqqu  minr-rabbihm  wa-ammalladziyna kafaruw  fayaquwluwna  maa-dzaa  aradallahu  bihaadza matsalan  yudhillu bihi.  Katsiyran  wayahdiy bihi, katsiyran.  Wamaa  yudhillu bihi  illal-faasiqiyna”.
“Sesungguhnya  Allah  tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.  Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yaqin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan :  “Apakah  maksud  Allah menjadikan  ini  untuk  perumpamaan?”  Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu {pula} banyak orang diberi-Nya petunjuk.  Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang yang fasiq”. {QS. Al Baqarah. 26}.
Dengan sesuatu perumpamaan seperti nyamuk, yang telah diciptakan Allah Ta’ala  tersebut  banyak manusia  yang hatinya silau  {tersesat}. Dan juga dari sesuatu perumpamaan dari apa yang Allah Ta’ala  ciptakan, banyak  manusia yang tha’at  {diberi petunjuk}.  Oleh karena itu kenyatan yang ada di alam dunia ini kita terima dengan ‘aqal yang sehat dengan menunjuki rasa  syukur  dan ketha’atan kepada Allah Ta’ala.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :
“Wa-idz  ta-adz-dzana  rabbukum  la-in-syakartum  la-adjiydan-nakum.  Wala-in-kafartum inna  ‘adzaabi-lasyadiydun”.
“Dan {ingatlah juga}, tatkala Tuhanmu mema’lumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur,  pasti  Kami  akan  menambah {ni’mat} kepadamu, dan jika mengingkari {ni’matku}  maka  sesungguhnya  azab-Ku  sangat pedih”. {QS. Ibrahim. 7}.
Sekali  lagi  perlu  diingat  bahwa orang yang melihat kenyataan yang ada didunia ini, lalu hatinya menjadi silau, dapat di ibaratkan orang yang melihat benda yang mengeluarkan cahaya dengan kuat tetapi dia tidak bisa melihat yang sesungguhnya yang mengeluarkan  cahaya itu dikarenakan terhalang olleh sesuatu yang ada didalam barang tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar